Sudah jamak bagi setiap entitas-organisasi untuk terus menerus mengupdate kemampuan dari setiap personilnya. tak terkecuali BPKP – sebagai organisasi yang mentahbiskan dirinya sebagai learning organization – secara periodik selalu mendiklatkan pegawai-pegawainya.
Setelah sekitar 6 bulan ngendon di bumi serambi mekah, … ceritanya kita orang disuruh ikut diklat pengelolaan database hasil pegawasan. Yah.. diklat untuk ngelola database hasil-hasil pengawasan (termasuk temuan-temuan audit lah).. tanggal 4-9 Februari 2007
sebenernya ada yang cukup menggelisahkan kalo mencermati diklat itu sendiri..
Dari sisi teknis pelaksanaan diklat memang tidak ada masalah, tapi kalo melihat bagaimana peserta memahami diklat itulah yang jadi masalah..
Diklat, jelas didesain untuk mencerdaskan pesertanya (notebene peserta dari setiap perwakilan di seluruh Indonesia) yang akan mencerdaskan (menularkan kecerdasannya) juga perwakilannya (lingkungan sekitarnya)…
ini kalo melihat diklat dari sisi pencetusnya… (walaupun tidak tertutup kemungkinan kalo ini hanya sekadar bentuk proyek saja…. penghabis anggaran negara)
tetapi kalo dari sisi pesertanya akan banyak jawabannya… pertama, ada yang menganggap diklat memang upaya pencerdasan… biasanya ini peserta yang masih muda, dan memang butuh ilmu yang disampain di diklat, insya Allah saya masuk kategori ini kedua ada yang mengganggap diklat sebagai “jatah” sppd, biasanya ini peserta yang memang mendapat giliran di kantor untuk diklat, bukan hanya untuk nyari ilmu tapi lebih ke nilai nominal SPPDnya… ya lumayan dapet uang SPPD, katanya. ketiga diklat atasan, sebenernya susah mengkategorikan jenis yang ketiga ini… biasanya ini atasan kantor yang emang sering sekali ngikutin diklat… jadi kalo ada undangan diklat,demi alasan prestise, kebanggan ato sebangsanya lah..(ato dengan alasan SPPD juga bisa) dan terakhir empat, jenis peserta yang emang doyan diklat. Jadi tiap ada diklat, bisa dipastikan dia ikut… karena kayaknya emang ada veteran diklat. Nggak penting jenis diklatnya…
kenapa ini menggelisahkan?
sebab, saya melihat hari pertama diklat.. permasalahan yang muncul adalah masalah SPPD.. yah duit lagi-duit lagi…inilah yang patut menjadi perhatian, bahwa duit oriented emang sudah mendarah daging dalam wujud makhluk bernama MANUSIA.
Bagaimana diklat ini bisa mencerdaskan? kalo yang menjadi orientasi bukanlah subtansi diklat itu sendiri, tapi lebih ke duit. Memang segalanya butuh duit.. tapi duit bukan segala-galanya…




3 comments
Comments feed for this article
22 Februari , 2007 pada 1:27 pm
meil
milist http://www.yahoogroups.com/bengkelmc
24 Februari , 2007 pada 9:53 am
Mbah Dipo
SPPD ki opo tho? “D” nya Duit ya…??
Fazlurrahman: SPPD ki Surat Perintah Perjalanan Dinas, kalo mo dinas
liarluar, dokumennya pake ini disitu ada komponen biaya per harinya…. weee kalo dokter sableng kali “Resep Oriented” mbahnya… semakin banyak resep semakin banyak duit masuk ke kantong… apalagi kalo dokternya buka apotek… wess sugih tenan26 Februari , 2007 pada 11:18 am
hanin
:sigh:
Iya juga sih, kadang diklat-nya sendiri ngga tepat sasaran. Faz mungkin masih baru, jadi banyak yang perlu dipelajari *berbahagialah yang masuk kategori pertama*.
Tapi buat para *veteran diklat*, seringkali para instruktur-nya menggelikan. Dulu di Perwakilan, para instruktur itu kita -peserta – yang ngajarin tuh (bener, kejadian waktu diklat pengelolaan database hasil pengawasan). Tiba-tiba sekarang jadi dia yang ngajarin kita… dan parahnya, ilmu kita dan dia sama-sama nambah jadi tetep aja dia ngga lebih pinter dari kita…
Mungkin peserta macam ini yang dianggap dalam kriteria kedua dan keempat. Bagaimana mau semangat, kalo ngga ada hal baru yang bisa dipelajari?
Saya pribadi lebih suka ngga ikut diklat. Berapa sih dapatnya SPPD dari diklat? Ngga sebanding dengan tanggung jawab setelah pulang ke Perwakilan: dianggap paling tahu, semua urusan terkait dibebankan ke saya…
(Hah! Ujungnya duit juga neh…)
Fazlurrahman: kalo kita yang ngajarin instruktur.. yah honornya buat kita lah… (yahh.. duit lagi)