Menyimak editorial Media Indonesia hari ini (2/3), tentang wacana perumusan RUU Kementerian Negara oleh DPR yang ditanggapi serius oleh pemerintah yakni menolak dengan tegas. Sebab tahu sendiri, RUU ini adalah bargaining politic DPR untuk menyetir presiden.
Terlepas dari itu, sebenernya saya jadi ingat obrolan dengan para dalnis BPKP NAD (dalnis semacam supervisor buat para auditor) di kantin.
Obrolan berkisar apa komoditas ekspor Indonesia? ada yang bilang migas yang semakin berkurang, ada yang bilang TKI trus ada yang sampai bilang pulau (nah loh..)
Tapi menurut saya ada yang potensial untuk menjadi komoditas unggulan, yakni peraturan baik itu undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan presiden, peraturan menteri, peraturan gubernur, bupati bahkan sampai RT RW pun suka bikin peraturan. Bahkan UUD pun sering didengungkan untuk diubah-ubah.
Sebenernya ide dasar pembuatan peraturan memang perlu kita dukung, selain untuk membuat sebuah aturan buat penegakan hukum, tentu saja peraturan dibuat untuk dapat menjalankan pemerintahan di level apapun.
Namun, kalo ternyata peraturan dibuat bukan itu… apakah perlu didukung? misalnya karena untuk kepentingan politis, untuk kuat-kuatan antar lembaga negara, untuk keuntungan ngeruk duit… atapun untuk sekadar biar eksis.
Ternyata orang Indonesia sudah sedemikian pandainya untuk membuat peraturan. Liat aja DPR yang konon katanya orang-orang pilihan rakyat… getol sekali buat peraturan. walaupun sebagai wakil rakyat dia punya fungsi sebagai legislatif, budgeting(anggaran), control (pengawasan) bukan berarti fungsi membuat peraturan harus selalu membuat peraturan. Belum selesai sosialisasi peraturan ini eh.. tahu-tahu udah diganti… emang dipikir negara ini seluas satu kecamatan. Tingkat pemahaman orang pusat dengan daerah pun berbeda… inilah perlunya waktu untuk sosialisasinya…
Bahkan yang paling penting, yakni penegakan peraturan bukan menjadi prioritas… Trus mo diapain peraturan kalo nggak ditegakkan??
Kalo melihat kenyataan ini kyaknya judul tulisan ini nggak salah. Saya mengusulkan kepada DPR khususnya untuk bisa menawarkan komoditas unggulan ekspor baru kepada pemerintah. Jasa membuat peraturan. Masih banyak negara-negara diujung kutub utara maupun selatan yang butuh peraturan. Dan inilah peluang devisa negara yang potensial. Sambil menyelam dua tiga pulau terlampaui begitu peribahasanya… Gimana Bapak-ibu DPR yang terhormat?




9 comments
Comments feed for this article
2 Maret , 2007 pada 10:32 pm
helgeduelbek
Maaf saya komentar, bukan anggota DPR lho. Peraturan oke mental pelaksana aturan hancur, apa bedanya yah dengan gak pakai aturan, wong yg ada dilanggar mulu.
Fazlurrahman: NGelanggar… Kan nggak ada yang jaga…
2 November , 2009 pada 5:51 pm
aprril
tapi kan tetep harus dipatuhi..
4 Maret , 2007 pada 5:22 pm
yati
hehehe, komoditas ekspor? bukannya kita pemakai Peraturan warisan? noh, yang diekspor malah pasir, terus2an, ga ada aturannya…
Fazlurrahman: ya gitu deh… ada aturannya tapi kalo duit “receh” sudah menggoda, mo gimana lagi???”
5 Maret , 2007 pada 12:02 pm
Yusuf Alam Romadhon
Iya… ya banyak peraturan… sampek-sampek orang Indonesia sekarang… pada ndak tahu kalo sudah banyak aturan… kemungkinan para pelaksana di pemerintahan juga tidak tahu kalo ada peraturan baru.. peraturan kan fungsinya hanya menambah tumpukan kertas di kantor dinas… trus kalo udah numpuk banyak dijual… nah dapat uang kan… salam kenal ya mas dengan diriku…
Fazlurrahman:Salam kenal dari yang selalu jadi pasien ini pak dokter… itulah Indonesia…, makanya bener kata Taufik Ismail, “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”
7 Maret , 2007 pada 10:43 am
Agam
Wah, ane sebagai orang kecil gak tau apa2 masalah ekspor mengekspor. Yang jelas, sepertinya banyak pungli tuh
Fazlurrahman : Pungli itu sebenernya loss potential pendapatan negara, itulah makanya negeri ini miskin terus…
7 Maret , 2007 pada 10:43 am
Agam
Oh ya… Salam kenal juga
11 Maret , 2007 pada 12:22 pm
anggauzz
Benarrrrrrr!!!
sebagai bangsa yang merdeka, kita harus punya harga diri.
Sudah saatnya kita harus tegas: Bikin peraturan yang tegas….
jangan sampai kita terlena, dan tautau sudah jatuh miskin karena ternyata banyak lintah yang menghisap negara iniiiii.
Merdekaaaaaaaaaaaaaaa!!!
(mgomong merdeka bukan berarti dukug megawati lohhh)
Fazlurrahman : Merdeka juga!…wah mbak yang atu ni semangat banget yahhh..
14 Maret , 2007 pada 6:02 pm
soeliwa
PeraturaN?!..
nGeruK Duit?!..(belut!!!)
ngomong2 perubahannya, di t4ku kerja juga iya tuh diganti-ganti mulu. so di subbag-ku TU jadi slalu kebanjiran order ngegandain RUU, trus ntar abis dirapatin, direvisi digandain lagi, ya tinggal berapa kali revisi aja, asal kuat aja. dan tentunya he.he.. malu…
Fazlurrahman: yah… ketauan nih.. suka disuruh fotokopi…
10 Agustus , 2009 pada 10:48 pm
taufik
benar mas,negara ini koq banyak skali orang2 hebatnya bikin aturan,bahkan sumber daya di indonesia saja bisa lenyap karena aturan pemerintah.
di kampus ku saja,kami sudah merasa gerah dengan aturan berangkai dari sang penguasa “DIREKTUR” maaf penguasa kampus kami bergelar demikian.