tulisan lama, pernah di publikasikan di koran civitas dan civitas-stan.com

Mahasiswa takut dengan dosen
Dosen takut dengan dekan
Dekan takut dengan rektor
Rektor takut dengan menteri
Menteri takut dengan presiden
Presiden takut dengan mahasiswa

(Taufik Ismail, Takut ’66, Takut ’98)

Puisi Taufik Ismail ini sungguh sangat menggelikan sekaligus menggetarkan dada saya ketika menyadari betapa mahasiswa ternyata menempati posisi terhormat dalam relasi kekuasaan. Walaupun pada awalnya menempati posisi terendah dalam rantai ”takut” (intern kampus) namun justru menempati posisi tertinggi dalam perpolitikan kenegaraan (ekstern kampus). Tak aneh banyak ”label” yang khusus disematkan kepada mahasiswa. Agent of change lah, agent of social, pilar kelima demokrasi, penggerak lokomotif perubahan dan lain-lainnya. Menambah heroik status kemahasiswaan. Walaupun ketika melihat kenyataan saat ini tak semua mahasiswa mengambil jalan itu, meski bisa. Saya berasumsi bahwa di zaman sekarang – reformasi – dunia kemahasiswan mempunyai momentum untuk bangkit.

Namun ada kegetiran tersendiri ketika membawa konteks kemahasiswaan ini ke dalam kampus STAN. Dunia kemahasiswaan yang penuh dengan idealisme ternyata hanya berakhir dalam wacana dan perbincangan-perbincangan di diskusi panel, seminar, kuliah umum saja ataupun paling banter hanya mampir sebentar di ruang publik semisal pamflet, spanduk maupun tulisan di koran kampus.

Untuk merefleksikan hal tersebut saya akan mencoba memodifikasi puisi Taufik Ismail di atas menjadi :

Mahasiswa takut dengan dosen
Mahasiswa takut dengan sekretariat
Mahasiswa takut dengan direktur
Mahasiswa takut dengan menteri
Mahasiswa takut dengan presiden

Masih terekam dengan jelas dalam ingatan, ketika mengikuti DINAMIKA. Saat ribuan mahasiswa baru larut dalam nuansa idealisme yang sangat kental. Walaupun kepala plontos dan penuh bentakan namun ada sebuah pencerahan tersendiri ketika tumbuh sebuah kesadaran bahwa mahasiswa identik dengan sosok yang idealis, kritis dan intelek. Acara yang diadakan oleh BEM ini benar-benar berisi asupan segar tentang apa-apa yang harus dipersiapkan untuk menjadi seorang mahasiswa. Namun yang terjadi selama 3 tahun menjadi mahasiswa STAN, saya melihat acara ini tak ubahnya menjadi sebuah seremonial belaka atau lebih tepat rutinitas yang berubah menjadi tradisi. Pendapat ini tentunya tak berlebihan ketika menyadari bahwa tak ada perubahan yang signifikan di kampus. Terlebih bagi pihak-pihak yang bertanggungjawab menggerakkan idealisme di kampus. Yang terjadi mahasiswa STAN menjadi penganut pragmatisme, sebuah ide (falsafah) sebagai lawan dari idealisme. Sosok yang apatis dan nrima ing pandum. Apalagi ditumbuhkan keyakinan – oleh masyarakat kampus – bahwa kuliah di STAN gratis maka yang ada hanyalah melaksanakan kewajiban dan menuntut hak adalah sebuah hal yang tabu.

Sungguh sangat memilukan ketika saya bersama anggota masyarakat lainnya turut dalam antrean pembeli BBM menjelang kenaikan 1 Oktober 2005. Di saat semua elemen mahasiswa bergerak menyuarakan penolakan, mahasiswa STAN harus sembunyi-sembunyi ikut aksi menentang kenaikan BBM – mungkin, sekali lagi mungkin agar tak dikirimi paket banci – karena dilarang Direktur. Masih segar dalam ingatan saya ketika mahasiswa STAN bergabung dengan ribuan mahasiswa lainnya menentang kenaikan BBM saat era Megawati (1 Januari 2003). Ataupun saat beberapa mahasiswa STAN menjadi korban penyerangan aparat saat aksi menentang vonis bebas Akbar Tanjung (2004). Dan ketika membaca catatan-catatan sejarah kemahasiswaan STAN, era 1998 pun tak dilewatkan oleh mahasiswa STAN. Bahkan mimbar bebas pernah dilakukan di STAN (Majalah Purnawarman). Mengapa sekarang dunia kemahasiswaan STAN menjadi sunyi ?.

Kemahasiswaan STAN menurut saya sudah berada di ujung kritis. Melihat bahwa pola ABS (Asal Bapak Senang) pun dipraktekkan di sini. Asal Direktur melarang, pun mahasiswa tak kuasa menolak. Dan ini memang warisan yang tak ternilai dari sejarah birokrasi kita. Sungguh menggelikan ketika mendengar cerita dari seorang teman mahasiswa, ketika menjelang kunjungan Menteri Keuangan, Direktur STAN membriefing perwakilan kelas untuk jangan mempertanyakan hal-hal sensitif apalagi isu reshuffle kabinet yang menyangkut Menkeu. Duh, gusti.Kekesalan ini tak kunjung hilang ketika mengetahui tak ada reaksi apa-apa dari masyarakat kampus ketika Direktur terindikasikan melakukan penyelewengan dan masuk dalam list KPK (walaupun akhirnya belum terbukti). Bagaimana dengan indikasi seorang dosen di Pajak yang ’meminta’ uang jutaan rupiah agar kelas-kelas yang diajarnya lolos DO. Ataupun indikasi pungli saat pengambilan buku oleh oknum sekretariat. Indikasi komersialisasi gedung oleh pejabat struktural. Indikasi penyelewengan uang mahasiswa dalam pembuatan parkir motor. Indikasi penyelewengan uang mahasiswa di fitness center. Termasuk indikasi soal ujian spesialisasi yang bocor karena menyogok sekretariat. Ataupun indikasi mahasiswa titipan yang lolos masuk STAN dengan membayar sekian rupiah. Ini hanyalah beberapa contoh dan masih banyak hal yang lain yang tak tercatat.

Lantas dimana gigi lembaga-lembaga kampus ? Badan Eksekutif Mahasiswa yang mempunyai presiden mahasiswa – mestinya statusnya lebih tinggi dari direktur di hadapan mahasiswa – harusnya tak sekadar menjadi tempat peminjaman barang dan pelaksana kegiatan. Ataupun Badan Legislatif Mahasiswa yang punya perwakilan di seluruh kelas – sebagai fasilitator aspirasi rakyat kampus – tak lebih menjadi penyelenggara rutinitas pemira. Ataupun Media Center STAN – sebagai watchdog (anjing penjaga) kehidupan kampus – tak ubahnya seperti kucing saja alias beraninya main kucing-kucingan. Saya mencoba berpretensi saja, walaupun saya yakin lembaga-lembaga kampus yang saya sebutkan sudah berupaya, namun itupun belum cukup.

Begitupun juga dengan lembaga mahasiswa ekstern kampus semisal HMI, KAMMI, GEMA PEMBEBASAN, dll. Mengapa ketika menyuarakan isu-isu ekstern kampus (kenegaraan) namun ketika berhadapan dengan isu kampus justru melempem. Lihatlah ketika menyuarakan anti korupsi di luar kampus begitu menggebu-gebu namun ketika kasus itu terjadi di depan mata (kampus). Sungguh sebuah hal yang aneh.

Saya hanya ingin menyadur cerita dari pidato pengukuhan guru besar Amien Rais yang berasal dari buku Power and Powerless (John Gaventa: 1980). Bahwa ilmuwan politik Amerika, John Gaventa pernah mengadakan penelitian di lembah pegunungan Appalachia Tengah, AS. Daerah ini sebenarnya kaya batubara yang diproduksi dan dieksploitasi oleh perusahaan tambang raksasa. Tetapi menurut perkiraan, penduduknya miskin sekali. Sekitar 70 % hidup di bawah garis kemiskinan. Dan 30 % menganggur. Tak ayal lagi, Appalachia menjadi kantung kemiskinan di negara adidaya dan kapitalis ini.

Di daerah ini, Gaventa meneliti konflik kepentingan perusahaan tambang dengan hak-hak warga yang diabaikan. Seorang Pak Tua, seorang pensiunan pekerja tambang diwawancarai. Gaventa ingin menyadarkan Pak Tua tersebut akan hak-haknya yang direbut paksa oleh perusahaan tambang ini. Termasuk ”ketidakadilan” yang terjadi. Perusahaan ini ternyata telah mengubah kampung Pak Tua ini menjadi bopeng carut marut dan hanya dikenai pajak rendah. Sedangkan Pak Tua turut menjadi korban karena menderita penyakit paru-paru akibat pekerjaannya di tambang sedang tidak mendapat kompensasi.

Gaventa mengajak Pak Tua untuk memperjuangkan haknya menuntut perusahaan kaya-raya dari London itu. Namun, Pak Tua terdiam saja. Dalam hatinya mungkin bergumam ”saya lebih tahu banyak dari anda tentang ketimpangan dan ketidakadilan dan saya lebih mengalaminya”. Karenanya Pak Tua tak bergeming dengan ajakan pemberdayaan oleh Gaventa. Pak Tua tak mau menyambut ajakan Gaventa. Entah karena takut atau bahkan sudah tak peduli lagi.

Bukan main kepalang heran Gaventa bahwa di negeri adidaya Amerika Serikat – yang menganut kebebasan demokrasi – masih ada orang yang tidak mau memperjuangkan haknya. Mengapa organisasi-organisasi aktivis di sekitarnya yang dahulu dikenal aktif memperjuangkan idealisme sekarang menjadi pasif dan menerima status quo ? Mengapa masyarakat walaupun didzalimi, disakiti ataupun diinjak-injak keadilannya tidak melawan ataupun memberontak ?

Dari sini muncul sebuah adagium Powerlessness tends to corrupt and absolute powerlessness tends corrupts absolutely sebagai bentuk modifikasi dari ucapan Lord Acton, Power tends to corrupt and absolute power tends corrupts absolutely (Amien Rais : Kuasa, Tuna Kuasa dan Demokratisasi Kekuasaan). Bahwa penyelewengan oleh penguasa tak hanya terjadi ketika penguasa berlaku otoriter namun juga terjadi ketika rakyat (masyarakat) – sebagai obyek kekuasaan – tidak tergerak untuk melakukan perlawanan.

Tak berbeda dengan kampus STAN. Mahasiswa sekarang berada di wilayah powerlessness. Atau meminjam istilah Emha Ainun Najib sebagai bolo dhupakan. Berada di posisi yang selalu harus kalah. Dengan siapa saja. Dengan dosen, karena dosen punya senjata ampuh nilai D. Dengan sekretariat, karena punya seabrek peraturan kemahasiswaan yang tidak boleh dilanggar. Apalagi dengan Direktur, punya senjata pamungkas DO yang selalu digunakan untuk membungkam aktivis kampus. Dan ketika kita memang sedemikian takutnya dengan hal-hal itu. Maka sekali lagi meminjam istilah Emha kita tak ubahnya seperti Togog dalam dunia pewayangan. Siapapun kita, berapa pun jumlah kita. Di zaman apapun kita hidup. Dan sampai kapanpun kita adalah Togog. Dan hobi permanen kita hanyalah membolak-balik kisah-kisah perjuangan idealisme dan membicarakannya saja, sampai hari ini, sampai saat membaca tulisan ini. Bukan menjadi pelakunya.

Saya yakin banyak teman-teman kampus – mahasiswa, alumni, dosen, karyawan – yang merindukan terciptanya kehidupan yang lebih baik di kampus STAN. Dan teman-teman mungkin adalah orang-orang yang lebih merasa tidak diadilkan oleh sistem maupun pelakunya di STAN daripada saya. Namun saya takut ketika teman-teman sudah menjadi Pak Tua di Appalachia ataupun menjadi Togog atau men-Togog-kan diri.Karena ketika keadaan ini terus menerus seperti ini. Yang terjadi adalah pewarisan sejarah, like produces like. Keadaan seperti ini akan melahirkan keadaan seperti ini pula di masa mendatang. Tentunya saya tidak berharap teman-teman kampus memberontak dan melawan atasan. Namun perlu ditumbuhkan saluran-saluran yang saling memberdayakan antara satu sama lain. Mahasiswa tak lagi menjadi obyek namun lebih bisa berperan menjadi subyek. Agar reformasi yang didengungkan di semua bidang juga menjangkau di wilayah kampus jurangmangu ini. Tak hanya nrima ing pandum dan menyerah pada keadaan dan menjadi pengingat ketika atasan ataupun pelaksana sistem tak menjalankan amanah dengan baik

Saat tulisan ini dimuat (semoga tak disensor) bisa jadi teman-teman kampus masih sibuk dengan urusannya sendiri. Mahasiswa harus mati-matian mempertahankan IPnya dengan melobi dosen bonus ataupun tetap nrima ing pandum, dosen masih sibuk cari tambahan penghasilan hingga telat ngajar, alumni pun masih bangga dengan kebesaran namanya, karyawan (pegawai sekretariat) pun memilih diam karena takut di DP3. Dan tulisan ini pun harus berakhir di tangan editor pers kampus ataupun jadi alas tempat duduk dan berakhir di tong sampah.

Kalah tak harus berarti harus jadi kalah-kalahan.

Tangerang, 29 Nopember 2005 03:30, sebuah catatan tentang cacatan

* pernah dipublikasikan dalam Koran Civitas