“…aku hanya bermaksud (mendatangkan)

perbaikan selama aku masih sanggup.

Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah.

KepadaNya aku berserah diri, dan kepadaNya

pula aku akan kembali“

“(Q.S.Hud: 88)”

Sejarah adalah cerita tentang kehidupan dalam jumlah banyak. Sejarah bukanlah cerita tentang raja-raja atau pahlawan seperti yang biasa kita baca di buku-buku teks wajib di masa sekolah dasar. Begitu juga sejarah bukanlah sekadar tulisan tercetak yang hanya dapat kita jumpai pada buku-buku perpustakaan maupun ceramah di ruang kuliah. Sejarah pada dasarnya memengaruhi dan dipengaruhi manusia. Karena pada saat yang sama sejarah mempengaruhi kehidupan manusia pada saat itu pula sejarah juga dipengaruhi oleh manusia. Bedanya, bila sejarah masa lalu memengaruhi manusia sekarang maka manusia sekarang akan memengaruhi sejarah masa datang.

Ketika berbicara mengenai sejarah pergerakan mahasiswa, ingatan sejarah kita akan selalu mengacu bahwa berbagai perubahan yang terjadi di dunia ini wa bil khusus Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh mahasiswa (baca: kaum terpelajar). Mulai dari kebangkitan nasional (1908), sumpah pemuda (1928), kemerdekaan indonesia (1945), Orde baru (1965), Malari (1974) maupun reformasi (1998). Ini menandaskan bahwa mahasiswa yang notabene kaum terpelajar mau tidak mau, suka atau tidak suka mempunyai tempat yang terhormat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perubahan-perubahan ini selalu dikaitkan dengan ciri mahasiswa yang selalu menonjol sebagai identitas kelompok masyarakat terpelajar ini. Empat ciri mahasiswa ini menurut Didin S. Damanhuri (Menerobos Krisis, 1985) adalah, pertama mahasiswa adalah kelompok orang muda. Karakteristik kelompok ini diwarnai oleh sifat pada umumnya selalu tidak puas terhadap lingkungannya di mana mereka menginginkan berbagai perubahan dengan cepat (dinamik) dan mendasar (radikal). Oleh karenanya gerakannya sering menunjukkan penentangan terhadap norma dan keadaan yang mapan (anti establishment) serta penguatan terhadap hal-hal yang mandeg (anti status quo).

Kedua, mahasiswa adalah kelompok yang menjalani sistem pendidikan tinggi. Karenanya napas dan sikap akademis akan memberi ciri kuat dalam gerak langkahnya. Sikap obyektif-rasional, kritis dan skeptis yang menjadi ciri keilmuan amat mempengaruhi pandangan-pandangannya dalam mengamati setiap setiap masalah. Mereka tidak akan begitu saja mengiyakan, meniadakan atau netral sebelum menelusurinya secara telaten dan masalah yang berkembang.

Ketiga, mereka adalah kelompok yang relatif “independen”. Kelompok ini relatif belum punya keterikatan baik financial, birokratis maupun ideologis terhadap pihak manapun. Karenanya ciri-ciri spontan dan lugas dalam bersikap dan memberi pandangan amat kuat. Mereka hanya berkepentingan terhadap masa depan yang lebih baik.

Keempat, mereka adalah juga kelompok yang menjadi subsistem masyarakat secara keseluruhan baik secara lokal regional, nasional maupun mondial. Oleh karenanya dalam menatap konstalasi yang berkembang denga latar belakang kemudian, keilmuan dan keindependenannya mereka senantiasa menempatkan pada sudut pandang yang tidak mengulang kelompok masyarakat lainnya, tetapi berusaha mencari hal yang tidak sempat terlihat oleh kelompok yang lain.

Identitas ini menguatkan karakter dari mahasiswa sebagai salah satu agen perubahan yang di setiap zamannya akan dituntut kontribusinya. Betapa dahsyat dan terhormatnya posisi yang disematkan kepada mahasiswa bahkan Hariman Siregar menyebutnya sebagai pilar kelima (fifith estate) demokrasi (Gerakan Mahasiswa: Pilar Kelima Demokrasi).

Pesimisme dan Apatisme

Namun kalau kita melihat konteks kemahasiswaan hari-hari ini, mungkin cerita heroik di atas tidak banyak kita dapatkan. Apalagi kemahasiswaan STAN yang notabene adalah perguruan tinggi kedinasan. Kalau kita melihat gejala pesimisme dan apastisme mahasiswa STAN semakin meningkat. Walaupun tidak ada penelitian/data yang resmi menyatakan hal tersebut, dapat dilihat dari antusiasme mahasiswa STAN terhadap isu-isu yang ditawarkan oleh elemen kampus dalam hal ini diwakili oleh BEM terasa belum mencakup sebagian besar mahasiswa STAN.

Gejala pesimisme dan apatisme mahasiswa STAN dipengaruhi banyak faktor, di antaranya faktor intern dan faktor ekstern kampus. Faktor intern, pertama, masalah akademis. Sebenarnya masalah akademis adalah masalah klasik dimana di kampus STAN ketatnya tuntutan akademis menuntut mahasiswa untuk mengesampingkan hal-hal di luar urusan akademis, termasuk aktivitas kemahasiswaan. Kedua, pola pikir PNS. Pola pikir yang mengedepankan nrima ing pandum (pasrah terhadap keadaan) masih banyak dianut oleh mahasiswa STAN. Yang penting kuliah, lulus jadi PNS, terserah apapun yang terjadi akan diterima dengan penuh kesabaran. Ketiga, Birokrasi STAN, yakni masih ada anggapan dari lembaga STAN, bahwa mahasiswa STAN adalah calon-calon PNS yang mana menjadi sub ordinat (pola atasan – bawahan) dari lembaga STAN sehingga dapat diatur layaknya bawahan.

Selain itu pesimisme dan apatisme kemahasiswaan STAN juga dipengaruhi oleh faktor ekstern, yakni pertama, kondisi kemahasiswan secara nasional sedang mengalami kelesuan. Kedua, hedonisme yang melanda hampir di semua kalangan masyarakat termasuk mahasiswa. Hal ini yang menyebabkan mahasiswa jadi enggan turut dalam isu-isu kemahasiswaan dikarenakan repot dan tidak akan mendapatkan imbalan berupa materi ketika menjadi aktivis mahasiswa.

Saya hanya ingin menyadur cerita dari pidato pengukuhan guru besar Amien Rais yang berasal dari buku Power and Powerless bahwa ilmuwan politik Amerika, John Gaventa pernah mengadakan penelitian di lembah pegunungan Appalachia Tengah, AS. Daerah ini sebenarnya kaya batubara yang diproduksi dan dieksploitasi oleh perusahaan tambang raksasa. Tetapi menurut perkiraan, penduduknya miskin sekali. Sekitar 70 % hidup di bawah garis kemiskinan. Dan 30 % menganggur. Tak ayal lagi, Appalachia menjadi kantung kemiskinan di negara adidaya dan kapitalis ini.

Di daerah ini, Gaventa meneliti konflik kepentingan perusahaan tambang dengan hak-hak warga yang diabaikan. Seorang Pak Tua, seorang pensiunan pekerja tambang diwawancarai. Gaventa ingin menyadarkan Pak Tua tersebut akan hak-haknya yang direbut paksa oleh perusahaan tambang ini. Termasuk ”ketidakadilan” yang terjadi. Perusahaan ini ternyata telah mengubah kampung Pak Tua ini menjadi bopeng carut marut dan hanya dikenai pajak rendah. Sedangkan Pak Tua turut menjadi korban karena menderita penyakit paru-paru akibat pekerjaannya di tambang sedang tidak mendapat kompensasi.

Gaventa mengajak Pak Tua untuk memperjuangkan haknya menuntut perusahaan kaya-raya dari London itu. Namun, Pak Tua terdiam saja. Dalam hatinya mungkin bergumam ”saya lebih tahu banyak dari anda tentang ketimpangan dan ketidakadilan dan saya lebih mengalaminya”. Karenanya Pak Tua tak bergeming dengan ajakan pemberdayaan oleh Gaventa. Pak Tua tak mau menyambut ajakan Gaventa. Entah karena takut atau bahkan sudah tak peduli lagi.

Bukan main kepalang heran Gaventa bahwa di negeri adidaya Amerika Serikat – yang menganut kebebasan demokrasi – masih ada orang yang tidak mau memperjuangkan haknya. Mengapa organisasi-organisasi aktivis di sekitarnya yang dahulu dikenal aktif memperjuangkan idealisme sekarang menjadi pasif dan menerima status quo ? Mengapa masyarakat walaupun didzalimi, disakiti ataupun diinjak-injak keadilannya tidak melawan ataupun memberontak ?

Dari sini muncul sebuah adagium Powerlessness tends to corrupt and absolute powerlessness tends corrupts absolutely sebagai bentuk modifikasi dari ucapan Lord Acton, Power tends to corrupt and absolute power tends corrupts absolutely (Amien Rais : Kuasa, Tuna Kuasa dan Demokratisasi Kekuasaan). Bahwa penyelewengan oleh penguasa tak hanya terjadi ketika penguasa berlaku otoriter namun juga terjadi ketika rakyat (masyarakat) – sebagai obyek kekuasaan – tidak tergerak untuk melakukan perlawanan.

Peran Strategis dan Sinergi, Kenapa tidak?

Melihat kenyataan-kenyataan di atasSinergi yang perlu dibangun adalah antara BEM, lembaga STAN dan mahasiswa pada umumnya. Sinergi ini dilakukan dengan menyeimbangkan antara kebutuhan (need) maupun keinginan (want). Artinya perlu dilakukan analisis mengenai kebutuhan dan keinginan dari masing-masing pihak. BEM sebagai eksekutif mahasiswa tentu harus punya visi menjadikan BEM sebagai pemerintahan mahasiswa yang dipercaya dan dibanggakan masyarakat kampus STAN, selain itu BEM juga harus berperan aktif dalam proses transformasi kampus STAN menuju masyarakat kampus yang berakhlak, berintegritas, berbudaya, dan mengedepankan intelektualitas. Namun BEM perlu bersinergi dengan mahasiswa, dalam artian aspirasi mahasiswa STAN tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan BEM. Karena BEM ada, tidak lain dan tidak bukan juga karena ada mahasiswa. Dan stakeholder utama BEM adalah mahasiswa. Kemudian ketika BEM dan mahasiswa dapat bersinergi dengan baik, tahapan selanjutnya adalah bersinergi dengan lembaga STAN. Ini menjadi penting karena lembaga STAN adalah institusi formal yang mempunyai kewenangan terhadap apa-apa yang dilakukan STAN termasuk oleh mahasiswanya.

Di sisi inilah kenapa kampus STAN perlu digairahkan. Kenyataan hari ini, ketika kita membiarkan pesimisme dan apatisme semakin menggejala secara luas pada mahasiswa, lambat laun BEM STAN tak ubahnya seperti event organizer saja yang hanya berkutat pada kegiatan-kegiatan yang tidak mempunyai arah dan tujuan.

Menyangkut masa depan kampus STAN, kita tidak perlu takut menggelar pertukaran pikiran secara lugas dan tajam. Yang kita pertaruhkan adalah masa depan generasi muda kita yang rata-rata mulai pesimis melihat masa depan. Bila pesimisme itu sampai berubah menjadi apatisme, masih bisakah kita melihat masa depan kita dengan kepala tegak dan yakin diri?

ditulis sebagai syarat pencalonan PRESMA STAN 2009