dilahirkan ke dunia dengan nama lengkap Moh. Fazlurrahman (nggak disingkat) di Prambatan Kidul rt 07/I di kota kretek Kudus. Nama Fazlurrahman terinspirasi oleh tokoh muslim Pakistan Fazlur Rahman. Nama ini katanya artinya “orang yang mendapatkan kemuliaan” (moga-moga dapat terwujud).

Akrab juga dipanggil Maman bersama 3 saudara kandung lainnya, Bakhtiyar Aulawy, Isti Kumalasari dan Atina Rosydiana tercatat sebagai keempat bocah yang melewati masa kecil di “gubuk derita ceria” di kota Sunan Kudus.

Sejarah kemanusiaanku sekarang menghantarkanku pada sebuah kota di ujung pulau Sumaetra, Nanggroe Aceh Darussalam untuk “belajar” audit di padepokan perwakilan BPKP Nanggroe Aceh Darussalam (2006-sekarang)
Setelah sebelumnya “ngelmu” di perguruan STAN (bukan SeTAN) – Sekolah Tinggi Akuntansi Negara di pinggiran Jakarta Selatan (eh… dah masuk Tangerang) selama 3 tahun plus beberapa bulan.

Sejarah kemanusiaanku kan terus bergulir hingga hembusan nafas terakhir… hingga aku benar-benar membuktikan bahwa manusia punya awal dan pastinya berakhir …

Dan sampai akhir hembusan nafasku… aku kan terus menulis abjad demi abjad dari rangkaian alfabet sejarah kemanusiaanku.